Peristiwa

Produksi Beras Jambi Tahun 2022 Diperkirakan Turun “Lagi”

Peristiwajambi.com, JAMBI – Pada tanggal 1 Nopember 2022, BPS sudah merilis angka sementara luas panen padi, dan produksi beras. Disebutkan dalam rilis tersebut luas panen padi tahun 2022 diperkirakan akan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2021, begitu juga dengan angka produksi beras.

Angka sementara (Asem) 2022 luas panen padi di Provinsi Jambi diperkirakan mencapai 63,76 ribu hektar, turun sekitar 1,01 persen dibandingkan tahun 2022 yang luas panennya mencapai 64,41 ribu hektar. Pemerintah perlu menjaga potensi luas panen padi pada Bulan Oktober-Desember agar tidak terjadi penurunan yang lebih dalam lagi.

Seperti kita ketahui, sejak 2018 BPS menggunakan metode Kerangka Sample Area (KSA) untuk penghitungan luas panen padi. Luas panen padi dihitung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement) menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan oleh BPPT dan BPS. Sampai saat ini, metodologi KSA menggunakan 463 sampel segmen lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300 m X 300 m (9 hektar) dengan lokasi yang tetap.

Setiap bulan, masing-masing sampel segmen diamati secara visual di 9 (Sembilan) titik dengan menggunakan HP berbasis android sehingga dapat diamati kondisi pertanaman di sampel segmen tersebut (persiapan lahan, fase vegetatif, fase generatif, fase panen, potensi gagal panen, lahan pertanian ditanami selain padi dan bukan lahan pertanian). Hasil amatan kemudian difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah. Pengamatan yang dilakukan setiap bulan memungkinkan untuk memperkirakan potensi produksi beras sampai dengan 3 (tiga) bulan ke depan.

Kembali ke angka rilis BPS, sejalan dengan penurunan luas panen, asem produksi padi Provinsi Jambi tahun 2022 juga mengalami penurunan. Produksi padi tahun 2022 diperkirakan turun sebesar 2,98 persen atau sekitar 8,87 ribu ton, dimana produksi padi tahun 2022 mencapai 289,28 ribu ton sedangkan produksi padi tahun 2021 sebesar 298,15 ribun ton.

Penuruan produksi padi berimbas juga pada penurunan produksi beras, besarnya juga mencapai 2,98 persen. Produksi beras Jambi tahun 2022 diperkirakan mencapai 167,34 ribu ton, turun dibandingkan produksi beras tahun 2021 yang sebesar 172,47 ribu ton.

Turunnya produksi beras di Jambi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, pertama fenomena cuaca. Perubahan iklim yang tidak menentu, menyebabkan jadwal tanam petani menjadi berubah. Kedua, banyak lahan sawah yang terendam banjir sehingga menyebabkan petani gagal panen. Banjir terjadi di beberapa Kabupaten, seperti sarolangun, Batanghari, Muaro Jambi, Bungo dan Sungai Penuh,

Ketiga, serangan hama pengganggu. Puluhan hektar sawah di Kerinci terancam gagal panen karena serangan hama ulat daun. Kemudian puluhan hektar sawah di desa simpang datuk Kabupaten Tanjung Jabung Timur juga terserang hama wereng batang coklat (WBC) dan juga terancam fuso.

Keempat, terjadi alih fungsi lahan sawah. Tidak sedikit lahan sawah yang dijadikan lahan perkebunan, karena hasil dari perkebunan yang lebih menjanjikan. Bagaimana tidak, kita ambil saja contoh perkebunan sawit, ketika sawit sudah menghasilkan petani bisa memanen hasil sawit dua kali dalam satu bulan. Kalau padi, petani hanya bisa memanen maksimal dua kali setahun, bahkan masih banyak sekali yang hanya panen sekali setahun.

Kelima sistem pengairan sawah yang belum memadai. Kita ketahui bersama, sawah di Jambi mayoritas pengairannya masih menggunakan sistem tadah hujan ataupun sawah pasang surut. Ini artinya petani hanya dapat menanami sawahnya pada saat musim hujan saja, pada saat musim kemarau lahan sawah tidak dapat ditanami komoditi padi.

Sebenarnya pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jambi dapat melakukan beberapa langkah untuk mencegah terjadinya penurunan produksi beras di Provinsi Jambi. Langkah-langkah tersebut seperti pertama pembangunan sistem irigasi yang baik pada daerah-daerah sentra padi. Selain untuk pengairan sawah, sistem irigasi bisa juga dijadikan sarana pencegah banjir. Waduk-waduk irigasi yang dibangun menjadi tempat penampungan air hujan atau debit sungai yang naik, sebelum langsung ke sawah petani.

Kedua perlu ada pencegahan alih fungsi lahan. Pemerintah perlu segera menetapkan lahan sawah abadi yang tidak boleh dilakukan konversi lahan, baik untuk perumahan, maupun untuk komoditas pertanian lainnya. Ini untuk menjaga produksi beras tidak terus turun. Tapi bukan itu saja, karena pemerintah sudah menetapkan kalau lahan tersebut tidak boleh dialihfungsikan maka pemerintah perlu juga memberikan kompensasi kepada pemilik lahan.

Ketiga pemerintah perlu terus memberikan bantuan kepada petani tanaman pangan, khususnya padi. Di tengah gempuran perkebunan sawit, karet, kopi dan pinang yang lebih menjanjikan, mereka masih bertahan untuk menanam padi sebagai sumber penghasilannya. Bantuan yang diberikan bisa berupa bantuan bibit, pupuk, saprotan atau bahkan bantuan langsung tunai khusus untuk petani padi.

Keempat untuk mencegah terjadi serangan hama pada tanaman padi, perlu selalu diadakan pelatihan-pelatihan kepada petani tentang cara-cara pencegahan maupun penanganan serangan hama. Hal ini dirasakan perlu agar jika padi diserang hama, petani sudah tahu cara yang efektif untuk mengatasinya.

Semoga dengan perhatian yang lebih dari Pemerintah akan nasib petani padi di Jambi, dapat meningkatkan kesejahteraan petani padi, dan berdampak langsung pada meningkatnya produksi. Dengan sejahteranya petani, negara semakin makmur. Salam.

 

Penulis
Nama: Nopriansyah, SST, MSi
Jabatan : Statistisik BPS Provinsi Jambi

Terpopuler

To Top