Peristiwa

Mengoptimalkan Bonus Demografi

Mengoptimalkan Bonus Demografi/istimewa

Peristiwajambi.com, JAMBI – Setiap tahun jumlah penduduk di dunia terus bertambah. Kenaikan jumlah penduduk tertinggi biasanya terjadi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Pendataan secara akurat diperlukan untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya.

Dari hasil pendataan tersebut akan diketahui jumlah penduduk terutama yang tergolong dalam usia produktif. Sensus Penduduk atau cacah jiwa merupakan cara terstruktur untuk mendapatkan informasi deskriptif tentang jumlah populasi. Sensus penduduk secara rutin dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap dasawarsa di tahun berakhiran nol bertujuan untuk mengetahui jumlah dan memetakan data penduduk di Indonesia. Sensus Penduduk 2020 menggunakan metode kombinasi yaitu dengan memanfaatkan data Administrasi Kependudukan (Adminduk) dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai data dasar pelaksanaan SP2020.

Hal ini dirancang dan dilaksanakan sebagai upaya untuk mewujudkan “SATU DATA KEPENDUDUKAN INDONESIA”. BPS melakukan Sensus Penduduk 2020 di tengah pandemi Covid-19. Dalam prosesnya, BPS menjalankan sensus secara online pada 15 Februari-29 Mei 2020, serta melalui pendataan lapangan pada September 2020. Data penduduk dari sensus digunakan pemerintah sebagai landasan untuk membuat kebijakan di berbagai bidang seperti pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan dan lain sebagainya.

Sensus Penduduk bertujuan untuk menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi serta karakteristik penduduk Indonesia. Data yang didapatkan ini akan menghasilkan parameter demografi, proyeksi penduduk serta capaian indikator SGGs (Sustainable Development Goals).
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data hasil sensus penduduk yang dilaksanakan pada tahun 2020 per bulan September tahun 2020 yaitu jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa, terdapat peningkatan sebesar 1,25 persen dalam sepuluh tahun terakhir yang berada di kisaran 237,63 juta jiwa pada tahun 2010 atau bertambah 32,56 juta jiwa dibandingkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010. Persentase penduduk usia produktif (usia 15–64 tahun) mencapai 70,72 persen dari total populasi.

Sementara persentase penduduk usia non produktif (usia 0–14 tahun dan 65 tahun ke atas) hanya 29,28 persen. Besarnya porsi penduduk usia produktif juga menunjukkan Indonesia masih berada pada era bonus demografi. Jika kita bandingkan data BPS dengan data dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau data administrasi kependudukan terdapat perbedaan. Data dari Kemendagri per Desember 2020 yaitu 271, 35 juta jiwa atau terdapat terdapat perbedaan sekitar 1,35 juta jiwa. Perbedaan data tersebut disebabkan adanya penduduk yang berpindah-pindah karena alasan bekerja, sekolah, migrasi atau alasan lainnya.

Dengan Luas daratan Indonesia sebesar 1,92 juta km2 maka tingkat kepadatan 141 jiwa/ km2. Pulau terpadat di Indonesia adalah pulau Jawa. Konsentrasi utama distribusi penduduk ada di Pulau Jawa meski luas geografis hanya 7 persen dari luas wilayah Indonesia. Pulau Jawa dihuni 151,59 juta jiwa (56,10 persen); disusul Pulau Sumatera dihuni sekitar 58,56 juta jiwa ( 21,68 persen); Pulau Sulawesi dihuni 19,9 juta jiwa (7,36 persen); sebanyak 16,6 juta jiwa (6,15 persen) berada di Pulau Kalimantan; sebanyak 15,0 juta jiwa berada di Pulau Bali dan Nusa Tenggara (5,54 persen); serta terakhir di Pulau Maluku dan Papua yang hanya 8,6 juta jiwa (3,17 persen). Wilayah yang paling padat di Pulau Jawa yaitu Jawa Barat mendominasi kepadatan penduduk sekitar 48,27 juta jiwa dan untuk provinsi terlowong ada di Kalimantan Utara yang hanya dihuni 0,7 juta jiwa. Banyak alasan penduduk memilih tinggal di Pulau Jawa yaitu karena memiliki fasilitas yang lengkap, memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah serta terdapat Daerah Ibukota negara dengan harapan memiliki lapangan kerja yang luas dan memadai.

Salah satu langkah awal bagi pemerataan penduduk di Indonesia yaitu pemerintah berencana memindahkan ibu kota negaranya ke Pulau Kalimantan. Kepadatan bisa dilerai bukan hanya karena faktor pindah ibukota aja, pemerataan pembangunan sarana dan prasarana yang lengkap dan tersedianya lapangan pekerjaan bisa membantu distribusi penduduk jauh lebih merata.

Bonus demografi merupakan fase dimana jumlah penduduk produktif berusia 15-64 tahun jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Bonus demografi dapat dilihat dengan parameter Dependency Ratio (angka beban ketergantungan) yang cukup rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010-2020 angka Dependency Ratio mengalami penurunan. Tahun 2010 angka Dependency Ratio sebesar 50,5 sedangkan pada tahun 2015 angkanya sebesar 48,6 dan pada tahun 2020 angkanya mencapai 47,7. Kecenderungan Dependency Ratio yang semakin kecil ini akan berlanjut hingga tahun 2030. Diperkirakan setelah tahun 2030 kecenderungan Dependency Ratio akan naik kembali karena jumlah lansia semakin meningkat.

Apa saja indikator penghitungan bonus demografi?. Pertama, jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk usia non produktif. Kedua, dampak jumlah usia produktif yang lebih besar akan mengakibatkan beban hidup menjadi lebih ringan karena jumlah penduduk usia non produktif akan ditanggung oleh penduduk usia produktif. Terakhir, bonus demografi akan diawali dengan transisi demografi dengan melihat pada hasil sensus sebelumnya. Kemudian Apa saja keuntungan dari bonus demografi? Pertama, lebih banyak penduduk usia produktif berarti lebih besar pula kesempatan untuk meningkatkan perekonomian negara karena jumlah angkatan kerja lebih banyak. Kedua, bonus demografi 2020 didominasi oleh Generasi Z dan Millenial yang terkenal kreatif, inovatif dan cakap teknologi. Hasil Sensus Penduduk 2020 mencatat Generasi Z yang lahir pada tahun 1997 – 2012 (perkiraan usianya 8 – 23 tahun) jumlah populasinya mencapai 27,94 persen. Sementara itu, Generasi Milenial (perkiraan usia 23-39 tahun) yang lahir dari tahun 1981 – 1996 ada di posisi kedua sebesar 25,87 persen. Ketiga, jumlah anak muda yang melimpah ini juga menjadi incaran tenaga produktif negara-negara maju yang kekurangan anak muda, sehingga bisa menjadi keuntungan yang besar jika Indonesia mampu merespon permintaan pasar tenaga kerja global.

Sementara itu, Kondisi kependudukan di Provinsi Jambi. BPS Provinsi Jambi merilis Jumlah Penduduk Provinsi Jambi perSeptember 2020) sebesar 3,55 Juta Jiwa. Kota Jambi dengan konsentrasi penduduk terbesar yaitu sebanyak 606,20 ribu jiwa, atau sebesar 17,08 persen dari total penduduk Provinsi Jambi. Sedangkan Kabupaten/Kota dengan porsi sebaran penduduk terkecil adalah Kota Sungai Penuh dengan jumlah penduduk 96,61 ribu orang, atau 2,72 persen dari penduduk Provinsi Jambi. Hasil Sensus Penduduk 2020 mencatat mayoritas penduduk Provinsi Jambi didominasi oleh generasi Z, generasi milenial dan generasi X. Proporsi generasi Z sebanyak 29,17 persen (1,02 Juta orang), generasi milenial sebanyak 26,80 persen dan generasi X sebanyak 21,43 persen dari total Populasi Penduduk di Provinsi Jambi. Ketiga generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dari sisi demografi, seluruh Generasi X dan Generasi Milenial merupakan penduduk yang berada pada kelompok usia produktif pada tahun 2020. Sedangkan Generasi Z terdiri dari penduduk usia belum produktif dan produktif. Sekitar 7 tahun lagi, seluruh Generasi Z akan berada pada kelompok penduduk usia produktif. Hal ini merupakan peluang dan tantangan bagi Provinsi Jambi karena generasi inilah yang berpotensi menjadi aktor dalam pembangunan dan menentukan masa depan. Persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Provinsi Jambi terus meningkat. Pada tahun 1980 proporsi penduduk usia produktif di Provinsi Jambi adalah sebesar 54,30 persen dari total populasi dan meningkat menjadi 70,54 persen di tahun 2020.

Beberapa faktor yang menentukan keberhasilan dari bonus demografi di antaranya pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan dan pertumbuhan penduduk . Bonus demografi ini menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positifnya yaitu memacu pertumbuhan ekonomi dalam mempersiapkan perencanaan pembangunan, merubah pola pikir generasi muda menjadi lebih kreatif dan merangsang penanaman modal. Sedangkan dampak negatifnya yaitu timbulnya pengangguran secara besar-besaran, persoalan penduduk dengan dampak yang akan terjadi pada lingkungan, selanjutnya yaitu tenaga kerja akan didominasi oleh tenaga kerja asing apabila penduduk tidak mempunyai skill yang baik.

Solusi yang tepat untuk mengoptimalkan bonus demografi diantaranya yaitu meningkatkan fasilitas kesehatan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan untuk angkatan kerja baru, investasi di bidang pendidikan yang berkualitas, melindungi penduduk yang bekerja untuk terus bekerja, memfasilitasi penduduk yang sudah bekerja agar memiliki produktivitas yang tinggi, menyiapkan angkatan kerja baru agar kompetitif dan sesuai kebutuhan pasar, fokus pada kebijakan ekonomi prosedur investasi yang sederhana dan meningkatkan jumlah produksi yang lebih besar dari tingkat konsumsi. Jadi generasi muda harus mempersiapkan diri untuk memanfaatkan bonus demografi tersebut dengan melakukan berbagai upaya serta perlunya peran pemerintah dan saling bekerja sama dari semua pihak.

Oleh : Ita Miranti, SST, M.Si
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Jambi

To Top